MAKALAH TAFSIR AYAT AL QUR-AN TENTANG POTENSI BELAJAR SURAT AN- NAHL :78 DAN AR- RUM :30
Author : Alif Basman
PENDAHULUAN
A. Penjelasan Ayat.
Di dalam Tafsir Al Misbah, ayat ini menyatakan bahwa Allah mengeluarkan
kamu berdasar kuasa dan Ilmu-Nya, dari perut ibu-ibu kamu sedang tadinya kamu tidak wujud,
maka demikian juga Dia dapat mengeluarkan kamu dari perut bumi dan menghidupkan kamu
kembali. Ketika Dia mengelurkan kamu dari perut ibu-ibu kamu, kamu semua dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatu pun yang ada di sekeliling kamu Dan dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, sebagai bekal dan alat-alat untuk meraih
pengetahuan agar kamu bersyukur dengan menggunakan alat-alat tersebut sesuai dengan tujuan
Allah menganugrahkannya kepadamu.
Di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menjelaskan bahwa proses kejadian
janin bisa terdeteksi oleh manusia. Akan tetapi, mereka tidak tahu bagaimana proses itu terjadi,
sebab ia merupakan rahasia kehidupan yang tersembunyi.
‘’Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
apapun...’’
Allah yang melahirkan para pakar dan para peneliti, dan mengeluarkannya dari perut
ibunya dalam kondidi tidak mengetahui apa-apa, adalah Maha Dekat sekali. Setiap ilmu yang ia
dapatkan sesudah itu, semuanya adalah anugrah dari Allah sesuai ukuran yang di kehendaki-Nya
untuk kepentingan manusia dan untuk mencukupi keperluan manusi untuk hidup di muka bumi
ini.
Ayat di atas menggunakan kata ( ألسمع (as-sam’ / pendengaran dengan bentuk tunggal
dan menempatkannya sebelum kata ( بصار األ (al-abshar/ penglihatan-penglihatan yang
berbentuk jamak, serta ( فتدة األ (al-af’idah / aneka hati yang juga berbentuk jamak.
M. Quraish Shihab menterjemahkan Kata al-af‘idah adalah bentuk jamak dari kata
( فؤاد (fu’ad yang artinya adalah aneka hati guna menunjuk makna yang jamak itu. Kata ini di
pahami oleh banyak ulama dalam arti akal. Makna ini dapat di terima jika yang di maksud
dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya qalbu, yang menjadikan seseorang
terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup
dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan Ilahi.
Dalam bahasa Al Qur’an, hati terkadang di ungkapkan dengan kata Qalbu atau dengan
kata Fu’aad, untuk menjelaskan setiap alat (organ) pemahaman pada diri manusia. Hal ini
meliputi apa yang di istilahkan dengan akal, juga potensi inspiratif (Ilham) pada diri manusia
yang tersembunyi dan tak diketahui hakikatnya serta cara kerjanya. Allah memberimu
pendengaran, penglihatan dan hati itu dalam rangka, “agar kamu bersyukur.”
B. Munasabah ayat
Buya Hamka di dalam tafsir Al Azhar, menjelaskan bahwa “dan di jadikan-Nya untuk
kamu pendengaran dan penglihatan dan hati.’’ Dengan arti bahwa dengan berangsur-angsur
tumbuhlah pendengaran, maka terdengarlah suara-suara dari yang dekat sampai kepada yang
jauh, lalu di tumbuhkan pula penglihatan, sehingga dapat membedakan berbagai warna dan dapat
memperhatikan wajah ibu yang sedang menyusukan dan pendengaran serta penglihatan itu di
tuntun oleh perkembangan hati , yakni hati dan fikiran. Sampai berangsur-angsur besar dan
dewasa, bertambah lama bertambah matang, sampai menjadi manusia yang berbudi bahasa,
bersopan dan bersantun, sanggup memikul Taklif, yaitu tangung jawab yang di pikulkan oleh
Allah ke atas pundak, menjadi anggota penuh kemanusiaan, “supaya kamu bersyukur.’’[7]
Didahulukannya kata pendengaran atas penglihatan, merupakan urutan yang sungguh
tepat, karena memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indra pendengaran
berfungsi mendahului indra penglihatan. Ia dimulai tumbuh pada diri seorang bayi pada pekanpekan pertama. Sedangkan indra penglihatan baru bermula pada bulan ketiga dan menjadi
sempurna menginjak bulan keenam. Adapun kemampuan akal dan mata hati yang berfungsi
membedakan yang baik dan buruk, maka ini berfungsi jauh sesudah kedua indra tersebut di atas.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perurutan penyebutan indra-indra pada ayat di atas
mencerminkan tahap perkembangan fungsi indra-indra tersebut. Firman-Nya di atas menunjuk
kepada alat-alat pokok yang digunakan guna meraih pengetahuan. Alat pokok yang bersifat
material adalah mata dan telinga, sedang pada objek yang bersifat immaterial adalah akal dan
hati
Munasabah ayat
M. Quraish Shihab menghubungkannya dengan ayat yang lalu dengan menyatakan
bahwa uraian al-qur’an surat an-Nahl ayat 77. “dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang
tersembunyi di langit dan di bumi. tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap
mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”, yang
merupakan salah satu bukti kuasa Allah menghidupkan kembali siapa yang meninggal dunia
serta kebangkitan pada hari kiamat. Allah Swt. menyebutkan tentang pengetahuan dan
kekuasaan-Nya yang maha sempurna atas segala sesuatau. Dia mengetahui apa yang gaib yang
ada dilangit dan dibumi, dan hanya Allah-lah yang mempunyai perkara gaib. Maka tiada
seorangpun yang diberi-Nya ilmu gaib ini kecuali bila Allah menghendakinya untuk
memperlihatkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.
Kemudian Allah menyebutkan keruniaNya yang telah Dia limpahkan kepada hambahambaNya yaitu Dia mengeluarkan mereka dari perut ibu mereka dalam tidak mengetahi sesuatu
pun. Sesudah itu Allah memberinya pendengaran hingga ia dapat mendengar suara, penglihatan
hingga ia dapat melihat, dan hati (yakni akal yang menurut pendapat shahih pusatnya berada di
hati). Menurut pendapat yang lain adalah otak. Dengan akal itu manusia dapat membedakan di
antara segala sesuatu, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya
pada dasarnya sasaran pemikiran adalah segala sesuatu yang hanya dapat ditangkap atau diperoleh dari
pengalaman indra manusia, seperti pendengaran dan penglihatan. Yang membuat rasa percaya
yang timbul dari hati yang suci.
Setelah manusia memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam atau
yang tertulis di dalam kitab-Nya, maka tidak akan mengakui adanya Allah kalau hatinya tidak
berfungsi yang disebabkan oleh ketidak yakinan atau tidak rasional. karena sesuatu yang rasional
tentu dapat diterima oleh akal, sebab dengan akal manusia akan semakin berfungsi dengan baik
manakala unsur rasa atau hatinya baik, suci dan senantiasa beriman.
Jadi, hakikat kebenaran itu ditentukan oleh akal, sedang fungsinya akal ditentukan oleh
hati. Maka hakikat kebenaran itu adalah dari hati. Barang siapa yang hatinya dibuka untuk
masuk islam dan selalu beriman, maka Allah akan memberikan pelajaran dan petunjuk-Nya
untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah serta akan mudah menentukan kebenaran
yang dipelajarinya.
C. Analisa Penulis
Pada makalah ini, penulis menggunakan tafsir bil-ma’sur yaitu tafsir yang berdasarkan
kutipan-kutipan yang shahih. Sebab, status tafsir bil-ma’sur adalah tafsir yang harus diikuti dan
dipedomani karena ia adalah jalan pengetahuan yang paling benar dan merupakan jalan yang
paling aman untuk menjaga diri dari ketergelinciran dan kesesatan dalam memahami kitabullah
Jadi, potensi manusia yang di berikan allah adalah pendengaran, penglihatan dan hati
nurani yang perlu kita syukuri.
Salah satu cara bersyukur ialah menjaga dan mempergunakan potensi tersebut sesuai
dengan keinginan yang membuatnya, yaitu Allah SWT. Dengan mendengar, manusia memiliki
kemampuan untuk mendengarkan hal-hal yang bermanfaat dan menhasilkan ilmu dan
pengetahuan. Dengan penglihatan manusia mampu untuk melihat dan memperhatikan segala
sesuatu yang bermanfaat. Dan dengan hati nurani manusia mampu untuk membedakan dan
merasakan yang hak dan yang bathil.
Manusia memiliki potensi yang besar namun potensi yang dimiliki manusia terbatas,
karena manusia hanyalah makhluk yang memiliki keterbatasan dan tidak ada yang mengetahui
sampai mana batas potensi manusia itu. Tidak sedikit manusia yang tidak mau mengoptimalkan
potensi yang dimilikinya.
Maka, bersyukurlah bagi kita yang mau menggunakan dan mengoptimalkan potensi yang
kita miliki, agar tidak rugi baik dunia dan akhirat, karena Allah sudah memberikan potensi
manusia yang sangat dahsyat dan sangat luar biasa yang patut untuk disyukuri.
Comments
Post a Comment